PENERAPAN
CARA BELAJAR SISWA AKTIF
Dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan,ada beberapa segi mendasar yang harus
dibenahi.Salah satu di antara aspek yang penting ialah, keterampilan membaca;
sebab keterampilan membaca merupakan salah satu kemampuan dasar yang harus
dimiliki oleh setiap warga negara.Sebagaimana dijamin dalam Undang-undang Nomor
2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional bahwa,Sistem Pendidikan
Nasional harus dapat memberi pendidikan dasar bagi setiap warga Negara Republik
Indonesia, agar masing-masing memperoleh sekurang-kurangnya pengetahuan dan
kemampuan dasar,yang meliputi Keterampilan berbahasa (membaca), menulis dan
berhitung (calistung) serta menggunakan bahasa Indonesia, yang diperlukan oleh
setiap warga negara untuk dapat berperan serta dalam kehidupan bernasyarakat,
berbangsa dan bernegara.
Sesuai dengan amanat Undang-undang nomor 20 Tahun 2003 Tentang sistem
Pendidikan Nasional serta,Peraturan Pemerintah No 19 Tahun 2005 tentang Standar
Nasional Pendidikan, yang pada implementasinya adalah, Peraturan Menterii
Pendidikan Nasional Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi (SI) dan Peraturan
Menteri Pendidikan Nasional No 23 Tahun 2006 Standar Kompetensi Lulusan (SKL),
untuk setiap jenjang satuan pendidikan.Hal ini merupakan acuan bagi guru untuk
memacu kompetensi yang dihasilkan.hal ini,pula tentunya berbagai cara
diupayakan agar tujuan pendidikan dapat berhasil sesuai dengan yang diamanatkan
Pemerintah.Untuk itu penulis mencoba untuk menggali teknik pembelajaran yang
sekiranya dapat memacu anak untuk lebih baik lagi, penulis mencoba menggali
kembali dengan teknik CBSA (Cara Belajar Siswa Aktif) yang sudah hampir
terlupakan, yang dirasa penulis sangat tepat bila dilaksanakan di Sekolah
Dasar.
Di Indonesia pengajaran membaca sebagai,keterampilan berbahasa sampai dewasa
ini telah digunakan beberapa cara, pada masa sebelum tahun 1925 sampai pecahnya
perang Dunia II digunakan the Alphabetic Method ( Methode ABC ), the Phonic,
the (key) Words Method dan The Sentence (Global Methode) yang masing-masing
dinilai tidak sesuai dengan struktur Bahasa Indonesia ( Soewargana, 1971 :
236-250 ).Sejak masa pendudukan Jepang di Indonesioa diganti dengan ”Metode
Kupas Rangkai Suku Kata ” (the Syllabic Method).Metode ini,dinilai sesuai
dengan bahasa Indonesia yang sebagian besar penduduk dari suku-suku kata
(Soewargana, 1971 : 251-260).
Keterampilan berbahasa memang sangat penting karena merupakan modal dasar bagi
siswa didik untuk memperoleh ilmu.Oleh karena itu,Keterampilan membaca harus
ditanamkan kepada siswa sejak usia dini.
Keterampilan berbahasa seseorang bergantung kepada kualitas dan kuantitas dalam
membaca kosakata yang dimilikinya (Tarigan 1993:2) yang merupakan,awal atau
kemampuan mengenal suatu ide dalam bentuk lambang,dalam hal ini lambang bunyi,
merupakan tingkat membaca dasar,perlu dibenahi dan diupayakan sedemikian rupa.
karena ini,merupakan awal keterampilan membaca yang dipakai untuk melangkah
ketingkat keterampilan membaca berikutnya.
Karena Kosakata merupakan komponen bahasa yang berperan dalam keterampilan
menyimak menulis berbicara dan membaca.Pada dasarnya,kegiatan membaca dimulai
dari penguasaan kosakata.
Mereka yang menguasai banyak gagasan atau dengan istilah lain, orang yang luas
kosakatanya dapat dengan mudah dan lancar mengadakan komunikasi dengan orang
lain. Betapa kita sering tidak dapat memahami pembicaraan orang lain.hanya
karena kita tidak cukup memiliki gagasan,kosakata atau orang yang diajak bicara
tidak cukup memiliki gagasan atau kosakata, sehingga ia tidak sanggup
mengungkapkan maksudnya secara jelas kepada kita. (Gorys Keraf, 2001;44).
Upaya meningkatkan keterampilan membaca, harus dimulaii dari peningkatan
penguasaan kosakata. Penafsiran makna bahasa bergantung kepada penafsiran
kosakata, walaupun penafsiran kosakata bukan satu-satunya cara memakai
bahasa.Penafsiran bahasa atau kosakata bukanlah unsur luarnya,tetapi maknanya
yang kontektual,di sesuaikan dengan sifat kearbiteran bahasa.
Kosakata sebagai komponen inti bahasa,merupakan jembatan penghubung kearah
penafsiran yang tepat yang komunikatif. Penguasaan kosakata secara kuantitas
dan kualitas merupakan kunci keterampilan berbahasa.
Secara umum disekolah-sekolah,diduga kuat bahwa tingkat keterampilan membaca
siswa masih relatif rendah, ini dibuktikan kondisi riil disekolah-sekolah yang
ada dibeberapa SD di Indonesia tersebut nilai rata-rata dibawah kriteria. Dalam
proses pembelajaran d ikelas,siswa sering kesulitan mengakses informasii yang
diterimanya. Dengan rendahnya tingkat keterampilan membaca,proses pembelajaran
sering mengalami hambatan sehingga tujuan pembelajaran tidak tercapai secara
optimal.Untuk itu peningkatkan keterampilan membaca siswa harus menjadii
prioritas utama dan perlu didukung dengan pendekatan yang dapat mengaktifkan
siswa dalam proses pembelajaran Bahasa Indonesia.
Pendekatan cara belajar siswa aktif, yang selanjutnya disebut CBSA. Pendekatan
tersebut menyajikan bahan pembelajaran yang menuntut aktifitas secara
keterlibatan mental siswa terhadap bahan yang dipelajari.Siswa dilibatkan dalam
memperoleh dan memproses informasi sehingga mereka dapat memiliki
pengetahuan,Keterampilan, sikap dan nilai. Guru bukan satu-satunya sumber
informasi dalam belajar dan bukan semata-mata berfungsi sebagai pengajar, tetapi
guru harus mampu membelajarkan siswanya. Melalui pendekatan CBSA anak dituntut
lebih aktif dalam belajar.
KEMUDIAN,Yang menjadi pokok permasalahan dalam INI,adalah rendahnya tingkat
keterampilan membaca siswa, yang berdampak optimal terhadap kualkitas hasil
belajar. Agar permasalahan tidak terlampau meluas, Kajian ini dibatasi pada
kontribusi penguasaan kosakata terhadap tingkat keterampilan membaca siswa.
Adapun rumusan masalah dalam pertanyaan sebagai berikut :
1.Apakah peran serta siswa terhadap keterampilan membaca sebelum menggunakan
pendekatan Cara Belajar Siswa Aktif pada Siswa ?
2.Apakah hasil pembelajaran tentang penguasaan kosakata, ada peningkatan
melalui pendekatan CBSA ?
3.Apakah pendekatan cara belajar siswa aktif (CBSA) layak
digunakan pada pembelajaran bahasa Indonesia dalam upaya peningkatan
keterampilan berbahasa Indonesia pada siswa ?
SETERUSNYA,Tujuan untuk mencari informasi yang akurat dan dapat
dipertanggungjawabkan tentang keterampilan membaca Indonesia, dan kontribusi penguasaan
kosakata pada siswa SD terhadap keterampilan membaca siswa. Secara khusus
tujuan diuraikan sebagai berikut :
1.Untuk mengetahui peran serta kosakata siswa terhadap keterampilan membaca
sebelum menggunakan pendekatan Cara Belajar Siswa Aktif pada Siswa.
2. Untuk mengetahui hasil pembelajaran tentang penguasaan kosakata, melalui
pendekatan CBSA pada siswa.
3. Untuk mengetahui kelayakan pendekatan cara belajar siswa aktif ( CBSA ) pada
pembelajaran bahasa Indonesia pada peningkatan keterampilan membaca bahasa
Indonesia Siswa.
Manfaat yang didapat dalam kajian ini adalah memperoleh pengetahuan dan
pengalaman baru tentang:
1. Kontribusi kosakata terhadap keterampilan berbahasa
2. Penerapan pendekatan cara belajar siswa aktif (CBSA) pada pelajaran bahasa
Indonesia dalam peningkatan keterampilan berbahasa.
3.Strategi pembelajaran bahasa Indonesia dalam peningkatan keterampilan membaca
4.Dalam meningkan penguasaan keterampilan berbahasa siswa, sebagai bahan yang
berharga bagi dirinya untuk kecakapan hidup.
5.Manfaat bagi sekolah adalah memperoleh informasii tentang tingkat
keterampilan membaca pada Siswa SD, dan memperoleh informasi tentang pendekatan
CBSA dalam pembelajaran bahasa, khususnya dalam peningkatan keterampilan
membaca.
Pada proses pembelajaran di Sekolah secara komprehensif yang ada di tingkat
dasar sampai dengan tingkat tinggi,proses pembelajaran merupakan suatu
aktifitas yang paling penting dan pokok, maksudnya pencapaian tujuan pendidikan
banyak bergantung pada bagaimana pembelajaran itu dilaksanakan.
Belajar sebagai salah satu perubahan tingkah laku (Surya, 1977:58). Syamsudin
(2002:157) mengartikannya sebagai suatu proses perubahan perilaku atau pribadi
seseorang berdasarkan praktik atau pengalaman tertentu. Aripin (1977:163) mengungkapkan
bahwa belajar adalah suatu rangkaian belajar mengajar yang berakhir pada
terjadinya perubahan tingkah laku baik jasmani maupun rohani, dan Dahlan
sendiri (TT:20) mengartikan belajar sebagai suatu proses perubahan tingkah laku
yang disebabkan individu mengadakan respons terhadap lingkungan.
Dari devinisi belajar yang diungkap empat pakar kependidikan diatas, nampak ada
kesamaan persepsi bahwa pada dasarnya, pembelajaran itu tertuju pada suatu
perubahan tingkah laku.
Proses pembelajaran merupakan proses yang sangat kompleks.Berbagai faktor ikut
serta mempengaruhi peserta didik ketika melakukan proses pembelajaran.Interaksi
antara sejumlah individu dalam lingkungan,ditambah terlibatnya lingkungan
tempat Sekolah berada, dan sekitar tempat tinggal peserta didik,turut serta
membentuk kondisi yang kompleks dalam proses pembelajaran diantara guru dan
peserta didik. Pendek kata faktor dalam atau faktor eksternal secara
bersama-sama mempengaruhi kegiatan proses pembelajaran yang hasilnya tercermin
dalam tingkah laku peserta didik.
Natawijaya (1977:30) mengungkapkan bahwa ada dua faktor pada dasar yang turut
serta mempengaruhi pembelajaran, yakni faktor belajar internal, dan faktor
eksternal.Kondisi belajar internal merupakan suatu unsur yang mempengaruhi perbuatan
belajar, dan unsur iotu berasal dari dalam diri peserta didik sendiri (intering
behavior) atau kemampuan dasar. Kemampuan dasar dimaksud mencakup aspek: 1)
Kematangan belajar, 2) Belajar untuk belajar, 3) Kemampuan belajar, 4) Persepsi
dan kemampuan dasar.
Kondisi belajar eksternal akan turut serta mempengaruhi perbuatan belajar, yang
termasuk kondisi eksternal adalah: 1) Kontinutias, 2) Latihan atau exercise,
dan 3) Penguatan.Keterampilan membaca adalah salah satu keterampilan berbahasa
selain keterampilan menyimak, berbicara, dan menulis. Keterampilan membaca
memiliki sifat reseftif sama dengan menyimak namun berbeda dengan berbicara dan
menulis yang bersipat produktif. Dipandang reseftif, pembaca maupun penyimak
harus mampu memahami pesan yang dikomunikasikan, sedangkan dipandang produktif,
pembicara maupun penulis harus mampu menyampaikan pesan. Seluruh pesan
dikomunikasikan melalui bahasa atau perilaku verbal. Pesan yang dikomunikasikan
dapat berupa gagasan (ide), keinginan, kemauan, perasaan ataupun informasi.
Dalam membaca pesan dikomunikasikan melalui tulisan (bahasa tulis) sama dengan
menulis, namun berbeda dengan berbicara dan menyimak yang menggunakan lisan
(bahsa ujaran). Pembaca tidak berhadapan secara langsung dengan penulis ketika
proses komunikasi namun melalui media tulisan, berbeda dengan berbicara dan
menyimak yang lansung berhadapan ketika proses komunikasi (Tarigan,
1987;Syafi’ie, 1986; Santosa, 2007; Godman, 1986: Rofi’udin 1999; Pappas, 1995;
Anderson, 1969). Agar pembaca dapat berkomunikasi melalui tulisan dan memahami
isi tulisan atau pesan yang dikomunikasikan melalui tulisan, maka pembaca harus
memiliki pengetahuan yang berhubungan dengan tulisan.
Kemampuan yang harus dimiliki pembaca itu antara lain:
1. Pembaca harus memiliki kemampuan memindai lambang- lambang bahasa tulis.
2. Pembaca harus memiliki kemampuan melafalkan lambang-lambang bahasa tulis.
3. Pembaca harus memiliki kemampuan memaknai lambang-lambang bahsa tulis.
4.Pembaca harus memiliki kemampuan menghubungkan makna tulisan dengan konteks
komunikasi (Tarigan, 1987)
Membaca merupakan rangkaian kegiatan yang bertahap dan berkesinambungan.
Rangkaian kegiatan membaca itu dibedakan menjadi:
1.Tahap prabaca, pembaca menyiapkan sumber atau bahan bacaan,
2. Tahap baca, pembaca melaksanakan kegiatan membaca disuatu ruang (tempat)
dengan alokasi waktu tertentu.
3. Tahap pascabaca, pembaca memberikan respons atau tanggapan terhadap isi atau
pesan yang dibacanya. (Tarigan, 1986; Rofi’udin, 1999).
Keberhasilan pembaca melaksanakan seluruh rangkaian kegiatan membaca
dipengaruhi oleh faktor internal maupun faktor eksternal. Contoh faktor
internal antar lain: minat dan motif membaca, tujuan pembaca, serta kemampuan
(daya) baca yang dimiliki oleh pembaca.Contoh faktor eksternal antara lain:
bahan bacaan, lingkungan baca, ruang dan waktu yang digunakan oleh pembaca.
Keterampilan membaca tidak bersipat mekanistis atau bawaan melainkan
keterampilan yang dapat dipelajari, seperti: keterampilan menyimak, berbicara,
dan menulis. Oleh karena itu keterampilan membaca dapat juga diajarkan.
Seseorang dapat memiliki keterampilan membaca melalui belajar atau melalui
pengajaran.
Secara leksikal peningkatan adalah cara atau perbuatan meningkatkan. Tarigan
(1994:23) mengungkapkan bahwa peningkatan adalah upaya meningkatkan kualitas
dan kuantitas dengan mempelajari kaidah-kaidah bagi perubahan suatu jenis ke
jenis lain yang lebih baik.Keterampilan membaca adalah kemampuan menggunakan
jenis petunjuk konteks bahasa atau unsur bahasa (kata) untuk menentukan makna
bahasa. Maksudnya kemampuan seseorang akan membaca dipengaruhi oleh
kemampuannya dalam menafsirkan petunjuk kontek bahasa atau unsur bahasa
(kalimat). Tarigan 1977:60).
Rofi’udin dan Damiati (1988/1999:106) mengungkapkan bahwa keterampilan
berbahasa adalah kemampuan pengetahuan dan penguasaan kaidah tata bahasa, baik
fonologi, morfologi, sinteksis, dan sematik. Penguasaan aspek sosiolinguistik
yang meliputi kemampuan mengenal kontek bahasa memilih ragam bahasa dan
menggunakan fungsi bahasa yang sesuai dengan konteknya.
Clark, Chaedar (2004:27) mengemukakan keterampilan berbahasa adalah kemampuan
menggunakan bahasa untuk tujuan-tujuan kehidupan nyata. Tanpa melihat bagaimana
kompetensi itu diperoleh kemahiran kerangka rujukan beralih dari ruang kelas
menuju situasi nyata dimana bahasa itu digunakan.
Berdasarkan pengertian diatas, peningkatan Keterampilan berbahasa menduduki
peranan penting dalam kegiatan komunikasi, mengekspresikan diri, berintregasi
dan beradaptasi serta bagai alat untuk berpikir. Dengan meningkatnya
keterampilan berbahasa, sedikit demi sedikit penuturannya akan dapat
memperbaiki gagasan tentang bagaimana seharusnya proporsi bahasa diungkapkan.
Pendekatan cara belajar siswa aktif ( CBSA ) merupakan upaya guru ,untuk menciptakan
suasana proses pembelajaran yang dapat mengaktifkan siswa agar siswa menyenangi
dan antuasias terhadap materi pelajaran yang dihadapinya.
Istilah pendekatan atau appoach diartikan cara, yaitu cara-cara penyajian bahan
pembelajaran yang mencakup penentuan bahan, tingkat kesukaran bahan, penyajian
bahan, evaluasi dan merupakan suatu sistem untuk mencapai suatu tujuan tertentu
pendekatan ada unsur psikis (Hastuti, 1996/1997:37)
Pendekatan CBSA (cara belajar siswa aktif), penyajian bahan pembelajaran yang
menuntut aktifitas secara keterlibatan mental siswa terhadap bahan yang
dipelajari.
Pendekatan CBSA (Cara Belajar Siswa Aktif) adalah sebagaiaturan pembelajaran
yang mengarah kepada pengofilisasian pelibatan intelektual-emosional siswa
dengan proses pembelajaran, dengan pelibatan fisik, siswa apabila diperlukan
pelibatan intelektual-emosional / fisik siswa serta optimalisasi bagaimana
belajar memperoleh dan memproses perolehan belajarnya tentang pengetahuan,
keterampilan, sikap dan nilai. (Damyati dan Medjiono, 2002 : 155)
Mengkaji pendapat Hastuti, dan Damyati diatas bahwa pendekatan CBSA merupakan
suatu pendekatan pembelajaran yang berfokus pada keaktipan siswa melibatkan
intelektual-emosional dalam kegiatan belajar.
Dalam pendekatan CBSA, guru dituntut lebih aktif dan kreatif memfasilitasi
serta memotivikasi siswa sehingga siswa aktif dalam belajar. Dengan pendekatan
CBSA, guru bukan satu-satunya sumber informasi dalam belajar. Guru bukan
semata-mata berfungsi sebagai pengajar, tapi guru harus mampu membelajarkan
siswanya.
Maka dalam proses pembelajaran dengan pendekatan cara belajar siswa aktif
(CBSA) terjadi keterlibatan siswa melalui tiga proses. Yaitu proses asimilasi
dari aspek kognitif, proses perbuatan langsung dan pengalaman serta penghayatan
dan internalisasi nilai, pada akhirnya terbentuklah pada diri siswa pengetahuan
(knowledge) Keterampilan (skills) serta nilai dan sikap (value and attitudes).
Keterlibatan mental dan fisik dan emosional siswa dalam kegiatan pembelajaran
dapat mempengaruhi kualitas dan kuantitaspengetahuan, keterampilan, dan sikap
siswa.
Peningkatan kadar CBSA dari suatu proses pembelajaran,berarti mengarahkan
proses pembelajaran yang berorientasi pada siswa, atau dengan kata lain
menciptakan pembelajaran siswa.Konsekuensi yang harus diterima dari adanya
pembelajaran berdasarkan siswa, adalah: 1) Guru seorang pengelola dan perancang
dari pengalaman belajar. 2) Guru dan siswa menerima peran kerja sama. 3)
Bahan-bahan pembelajaran dipilih berdasarkan kelayakan. 4) Penting untuk
melakukan identifikasi dan penuntasan syarat-ayarat belajar. 5) siswa
dilibatkan dalam belajar. 6) Tujuan ditulis secara jelas. 7) Semua tujuan
diukur. (Gale, 1975:2004).
Untuk mengoptimalisasi pembelajarn denga pendekatan CBSA, Yamato dalam Damyati
dan Mudjiono (2000:119), mengungkapkan bahwa proses pembelajaran yang optimal
terjadi apabila siswa yang belajar maupun Guru yang membelajarkan memiliki
kesadaran dan kesengajaan melibatkan diri dalam proses pembelajaran pada diri
siswa dan guru akan dapat memunculkan berbagai interaksi pembelajaran.
Para pakar bahasa memberikan memberikan pengertian tentang kosakata itu
berbeda-beda. Badudu dan Zain (1996:720) menafsirkan bahwa kosakata adalah
pembendaharaan kata. Maksudnya kekayaan kata yang dimiliki oleh seseorang dalam
kegiatan kebahasaan seperti menyimak, berbicara, membasa dan menulis.
Kosakata atau pembendaharaan kata dapat diartikan sebagai berikut:
1) Semua kata yang terdapat pada suatu bahasa. 2) Kekayaan kata yang dimiliki
oleh seseorang pembicara atau penulis. 3) Kata yang dipakai dalam suatu bidang
ilmu pengetahuan. 4) Daftar kata yang disusun seperti kamus disertai
penjelasannya secara singkat dan praktis (Soejito,1988:1).
Kosakata atau bisa disebut pembendaharaan kata dapat diartikan aneka bahasa,
kosakata dapat pula diartikan sebagai kata-kata yang disusun dan diberikan
penjelasan seperti terdapat dalam kamus. Kosakata pun sebenarnya dapat
diartikan sebagai kata yang digunakan dalam bidang Ilmu Pengetahuan tertentu
kosakata dapat diartikan sebagai jumlah kata atau pembendaharaan kata yang
dimiliki oleh seseorang. D Tarigan (1995; 160)
Adapun yang dimaksud kosakata menurut pendapat Kridalaksana (1994: 96)
Sebagaimana disebutkan dalam kasus linguistik bahasa, kosakata sama dengan
leksikon, adalah (1) Komponen bahasa yang memuat secara informasi tentang makna
kata dan pemakaian kata dalam bahasa. (2) Kekayaan kata yang dimiliki oleh
seseorang pembicara, penulis suatu bahasa, pembendaharaan kata. (3) Daftar kata
yang disusun seperti kamus, tetapi dengan penjelasan yang singkat dan praktis.
Berdasarkan beberapa pengertian diatas, kosakata menduduki peranan penting
dalam pengajaran bahasa. Penguasaan kosakata, dasar dari pada keterampilan
membaca. Untuk itu pengajaran kosakata disekolah harus menjadidasar bagi
peningkatan keterampilan membaca siswa.
Berangkat dari batasan-batasan diatas, dapat disimpulkan bahwa kosakata adalah
sejumlah kata yang terdapat dalam bahasa atau suatu bahasa, baik bahasa lisan
maupun bahasa tertulis.Unsur Bahasa Yang paling penting adalah kata atau
kosakata dengan kata-kata kita berpikir, mengungkapkan gagasan atau ide.
Semakin banyak kosakata yang kita kuasai semakin lancar pula kita berpikir
untuk itu diperlukan penguasaan kosakata jumlah besar.
Keraf ( 1966: 21 ) mengungkapkan bila kita menyadari bahwa kata merupakan alat
penyalur gagasan, artinya semakin banyak kata yang dikuasai seorang semakin
banyak pula ide atau gagasan yang dikuasainya dan yang sanggup
diungkapkannya.Penguasaan kosa kata dapat berupa reseptif dan penguasan
produktif, serta penguasaan penulisan.
Reseptif adalah penguasaan yang bersipat pasif, artinya pemahaman-pemahaman
hanya dapat dalam proses pemikiran. Bahasa yang bersipat pasif adalah dalam
kegiatan menyimak dan membaca, sebagaimana diungkapkan oleh Haris dalam
Nurgiantoro (1985:209-210) penguasaan reseptif pada dasarnya mencangkup
keterampilan membaca dan menyimak atau disebut juga proses decoding, yaitu
proses usaha memahami apa-apa yang dituturkan orang lain baik lisan maupun
tertulis.
Penguasaan kosa kata reseptif yang dimaksud adalah pemahaman terhadap kosa kata
tertentu dalam suatu teks kalimat. Dengan kata lain penguasaan reseptif kosa
kata dalam wujud tulisan bukan dalam bentuk ujaran (menyimak).
Haris dalam Nurgiantoro (1985: 209-210) mengemukakan bahwa penguasaan kosa kata
produktif mencakup keterampilan berbicara dan menulis atau disebut juga proses
encoding yaitu proses usaha mengkomunikasikan ide pikiran, peranan melalui
bentuk-bentuk kebahasaan.Penguasaan kosakata produktif (aktif), adalah dengan
cara mampu menerapkan kosakata yang bersangkutan dalam satu teks kalimat.
Dengan demikian akan jelas makna yang dikandung oleh kosakata tersebut.
Penguasaan kosakata produktif disini tidak dimaksudkan untuk penguasaan secara
ujaran lisan (berbicara).
Penguasaan kosa kata memiliki peranan penting dalam penulisan
kosakata bahasa Indonesia. Meskipun mampu memahami artii suatu kata dan
menggunakannya dalam suatu teks kalimat, namun jika kita tidak menguasai kosa
kata yang benar (sesuai EYD), maka dapat dikatakan belum menguasai kosakata
yang bersangkutan secara sempurna.Penguasaan penulisan kosakata yang dimaksud
adalah penulisan kosakata yang benar dengan kaidah-kaidah bahasa Indonesia.
Dari hasil kajian deskriptif penulis dalam menganalisis proses pembelajaran
bahasa Indonesia mengenai metoda Keterampilan Berbahasa melalui pendekatan Cara
Belajar Siswa Aktif (CBSA) di Sekolah Dasar,Diduga kuat ada peningkatan. Dengan
demikian upaya meningkatkan keterampilan membaca melalui cara belajar siswa
aktif dapat sesuai dengan hasil yang baikSelama siswa memperoleh program
keterampilan berbahasa siswa melalui cara belajar siswa aktif tercatat bahwa :
Pertama, keterampilan berbahasa, siswa dipengaruhi oleh orang yang terdekat
dengannya. Kedua, kedalaman pengalaman siswa terhadap sesuatu akan mempengaruhi
mudah dan sulitnya untuk membaca. Ketiga, pengalaman akan hal-hal yang konkrit
lebih memudahkan siswa dalam membaca. Keempat, belajar yang didasarkan pada
keterampilan berbahasa siswa berbuat belajar tanpa beban, sehingga kemungkinan
berhasil akan sangat tinggi. Kelima, membaca dengan cara ini ternyata membuat
siswa mampu menghubung-hubungkan pengalamannya dalam rangkaian yang logis dan
sistematis serta menunjukan kreatifitas bahasa daya kritis siswa yang semakin
meningkat. Ini merupakan dampak pengiring yang sangat positif dan sangat
dibutuhkan oleh siswa mengembangkan pemahamannya tentang bacaan. Keenam,
pengajaran membaca berdasarkan metode keterampilan membaca dapat membuat siswa
mampu berbahasa secara tuntas, dalam arti membaca kata dengan segala macam
rangkaian huruf yang menyusunnya, baik dalam konteks frasa, klausa, kalimat,
maupun dalam konteks wacana yang lebih panjang. Ketujuh, Siswa ternyata dapat
belajar secara efesien dalam satu kesempatan.
Pada bagian kesimpulan dikemukakan pokok yang mendasari isi makalah sebagai
berikut:
Keterampilan berbahasa, khususnya keterampilan berbahasa tingkat awal merupakan
hal yang sangat penting, karena akan menjadi dasar pengembangan keterampilan
berbahasa selanjutnya. Menyadari pentingnya hal tersebut maka perlu diupayakan
suatu model pengajaran dengan pendekatan cara belajar siswa aktif. Sehubungan
dengan itu, keterampilan berbahasa dapat dipilih sebagai salah satu upaya untuk
maksud tersebut. Hal ini didasarkan pada hasil temuan yang diperoleh dari
makalah yang tertulis ini bahwa keterampilan membaca melaluii Pendekatan Cara
Belajar Siswa Aktif (CBSA) pada siswa SD, ternyata keaktipan nampak, sehingga
hasil belajar menunjukan peningkatan yang signifikan.
Tingkat keterampilan berbahasa yang dimulai dengan pengenalan kosakata,
pemahaman kosakata, dan penggunaan kosakata dalam proses pembelajaran bahasa
Indonesia, sangat disenangi siswa, lebih mudah siswa mengekspresikan
kemampuannya melalui bahsa sendiri.
Keterampilan berbahasa melalui cara belajar siswa aktif kiranya dapat
dilaksanakan dengan cara penyelenggaraan program yang pleksibel (dapat
dilakukan kapan saja dimana saja siswa ingin belajar serta dengan topik apa
saja yang diminati siswa), maka tampaknya keterampilan berbahasa ini dapat
digunakan oleh para orang tua khususnya para guru untuk melatih membaca
siswa-siswanya dalam memasuki bangku sekolah dasar.
Meskipun dari studi kasus yang dilakukan dalam keterampilan berbahasa melalui
cara belajar siswa aktif memberikan hasil yang sedemikian baik namun perlu
diingat bahwa hasil tersebut diperoleh dari seorang siswa yang kondisi
lingkungannya dapat memungkinkan ia berhasil. Untuk suatu hasil yang lebih baik
dan sempurna, penulis sarankan kepada para pembaca berikutnya untuk melakukan
pengamatan mengenai penggunaan keterampilan berbahasa melalui cara belajar
siswa aktif dalam pengajaran membaca awal dengan obyek lebih dari satu siswa.
Dapat dipilih dua, tiga atau lebih siswa yang berbeda jenis kelamin , latar
belakang sosial ekonomi, dan budayanya darii siswa-siswa yang akan dijadikan
obyek penelitian. Diupayakan juga ada jarak antara penulis dan siswa-siswa yang
akan diamatii (bukan sebagai ibu dan siswa seperti pada pengamatan yang
dilakukan), sehingga akan diperoleh hasil yang lebih jelas mengenai kebaikan
dan kekurangan keterampilan berbahasa melalui cara belajar siswa aktif bila
akan diterapkan untuk pengajaran membaca siswa-siswa di sekolah lain.
Keterampilan berbahasa melalui cara belajar siswa aktif ini lebih sesuai
digunakan untuk pengajaran individual, kelompok kecil maupun kelompok besar.
Oleh karenanya bila ini akan digunakan didalam kelas perlu dipertimbangkan
aspek waktu yang diperlukan, juga heterogenitas siswa yang berada dikelas itu.
Namun demikian upaya itu masih dapat dimanpaatkan untuk pengajaran di sekolah
bagi siswa-siswa yang mengalami hambatan dalam membaca (program remedial).
Pengajaran di dalam kelas dapat menggunakan pendekatan ini bila ada
penyeragaman pengalaman siswa yang dapat dilakukan melalui pengelompokan
berdasarkan minat maupun latar belakang pengalamannya. BRAVO DELTA.